RegionalTeras Berita

Dirjen PKH Pemberantasan Rabies di Bali Prioritas

(foto : Ist) Dirjen PKH, I Ketut Diarmita.

DENPASAR – Pemerintah hingga kini terus meningkatkan upayanya dalam memberikan keamanan dan perlindungan bagi masyarakat dan wisatawan dari ancaman penyakit anjing gila (rabies) dengan program pemberantasan rabies di seluruh wilayah Bali.

Menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita yang ditemui di Denpasar, Jum’at (30/8/2019) pekan lalu menyampaikan pemberantasan rabies di Bali menjadi salah satu prioritas pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan).

“Ditjen PKH bekerja sama dengan Dinas Peternakan Provinsi Bali secara konsisten terus melakukan upaya pemberantasan rabies di Bali,” tuturnya.

Dikatakan pihaknya memang fokus bagaimana memberantas rabies di Bali secepatnya. Karena menurutnya memberantas rabies menjadi sebuah prioritas disamping juga anggaran yang dikucurkan cukup besar.

“Ini yang kita akan dorong terus sebagai bentuk persembahan kita pada pak Gubernur Wayan Koster, jangan sampai daerah Bali masih diganggu oleh outbreak-outbreak penyakit yang dapat mengganggu pariwisata kita,” imbuhnya.

Kenapa rabies masih menjadi momok dan sewaktu-waktu muncul? Diungkapkan Diarmita, rabies bukan hanya muncul dari anjing-anjing yang telah telah dewasa, namun yang perlu diwaspadai yaitu bayi-bayi anjing yang baru lahir dan lolos dari proses vaksin.

“Kalau anjing yang telah dewasa bisa saja ditangkap lantas di vaksin, tapi kerap yang masih bayi dan baru lahir inilah yang banyak lolos,” sebutnya.

Meski demikian Diarmita mengakui secara resmi untuk penanganan rabies di Bali ia menilai sudah bagus, indikatornya yaitu serapannya sudah mencapai 79 persen sampai bulan Agustus 2019.

“Mudah-mudahan hingga akhir tahun bisa mencapai 100 persen,” katanya optimis.

Lebih lanjut dijelaskan, sejak tahun 2017, pemerintah pusat dan daerah telah mengoptimalkan semua sumberdaya yang ada untuk program pemberantasan rabies. Ia menekankan, Ditjen PKH telah mengalokasikan bantuan berupa pendanaan, pendampingan, dan bantuan teknis lain untuk memastikan pemberantasan rabies di Bali bisa dilaksanakan dengan baik.

“Selain itu, pemerintah telah menyiapkan sumberdaya manusia pelaksana kegiatan tersebut, dan melakukan penambahan petugas vaksinasi,” tutur Diarmita.

Dijabarkan juga jumlah tim vaksinasi dengan keahlian khusus yaitu A Team yang semula sebanyak 20 tim menjadi 50 Tim, dan petugas vaksinasi desa sebanyak 2 (dua) orang per desa, sehingga total petugas vaksinasi desa sebanyak 1.432 orang.

Diarmita juga menjelaskan, pelaksanaan program pemberantasan rabies di Bali sejak tahun 2017 dibagi menjadi 3 (tiga) tahap yaitu (1) vaksinasi massal, (2) re-vaksinasi, dan (3) vaksinasi sweeping. Menurutnya, selama pelaksanaan program pemberantasan telah berhasil divaksinasi sebanyak 487.912 ekor anjing dari estimasi populasi sebanyak 578.694 ekor anjing, atau cakupan vaksinasi mencapai 84 persen, dengan capaian cakupan vaksinasi per kabupaten/Kota antara 76-90 persen.

Dengan berbagai tahapan tersebut, ia menuturkan, pada tahun 2017 saja kasus rabies pada hewan menurun lebih dari 83 persen dibandingkan dengan kasus pada tahun 2015, yaitu dari 529 kasus pada 2015 menjadi hanya 89 kasus pada tahun 2017.

Menurutnya, secara paralel, penurunan kasus pada hewan ini juga berkontribusi dalam penurunan kasus rabies (Lyssa) pada manusia yaitu dari 15 kasus pada tahun 2015 menjadi 2 kasus pada tahun 2017 atau mengalami penurunan sebanyak 87 persen.

Diarmita menyampaikan bahwa apresiasi perlu disampaikan kepada Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten/Kota di Bali yang telah bekerja keras dalam mengimplementasikan kegiatan pemberantasan rabies di lapangan.

“Komitmen dinas dan petugas vaksinasi di lapang sangat luar biasa. Penurunan kasus yang kita raih pada tiap tahunnya adalah hasil jerih payah mereka, dan saya sangat mengapresiasi kinerja mereka,” tutupnya. (wie)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan