FokusTeras Berita

Editor’s Forum – Media Bermartabat, Untuk Pemilu Berkualitas

DENPASAR – Menciptakan Pemilu yang berkualitas dan bermartabat merupakan bagian penting dari menghindari gesekan-gesekan yang kerap terjadi dan itu bisa melalui sajian berita dan informasi yang meneduhkan hati di tengah tengah masyarakat. Hal itu dilakukan semata mata untuk menjaga keutuhan negara dan bangsa. Pers dan Pemilu mempunya kedudukan yang strategis satu sama lain dan saling menguatkan. Hal itu terungkap dalam acara “Editor’s Media” dengan tajuk “Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Dewan Pers di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Rabu (29/8/2018).

Menurut Tenaga Ahli Ditjen IKP, Ahmed Kurnia, pemberitaan jangan sampai terpecah belah hanya karena pemilu. Untuk itu diperlukan upaya dari semua pihak untuk melakukan pengawasan serta evaluasi pelaksanaan proses pemilu.

“Pers memegang peran penting atau berkontribusi besar dalam pelaksanaan pemilu,” ungkapnya.

Saat ini publik tidak lagi mengakses berita melalui media mainstream tapi melalui gadget juga sudah bisa melakukan sharing informasi. Namun ia berharap informasi yang dibagikan hendaklah yang positif atau dengan kata lain bagaimana bermedia sosial yang bermartabat dan santun.

“Bila pers yang bermartabat bisa memainkan perannya selain partisipasi masyarakat yang ikut pemilu meningkat, kebutuhan untuk berdemokrasi sesuai hati nurani masyarakat juga terpenuhi,” tukasnya.

Sedangkan Anggota Dewan Pers 2010-2013, Agus Sudibyo yang juga jadi salah satu narasumber menjelaskan, Kaukus Media dan Pemilu merupakan kumpulan insan media. Kegiatan ini merupakan bagian kampanye agar bagaimana pemilu 2019 bisa berjalan lancar. Apalagi saat ini sudah mulai bermunculan berbagai macam hastag di media sosial.

“Bila medsosnya memanas bagaimana media mainstream bisa menjadi rujukan berkualitas bagi masyarakat,” katanya.

Konteksnya semakin relevan karena ada riset tentang tingkat kepercayaan publik terhadap media mainstream. 71 persen riset menunjukkan masyarakat masih percaya pada media massa jurnalistik untuk dijadikan rujukan informasi seperti koran, TV, Radio dan Media Online.

“Ini modal yang bagus, masih ada kepercayaan masyarakat untuk mendapatkan berita yang bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya sembari mengingatkan masyarakat pers jangan berbangga dulu, pasalnya merujuk pada riset Edelman 71 persen masyarakat masih juga suka mengakses media sosial.

Meski diakui saat ini secara global 51 persen terjadi penurunan kepercayaan masyarakat terhadap media jurnalistik dan 59 persen masih suka mengakses media sosial, penting kiranya menjaga “Publik Trust” dengan memberikan informasi yang lebih dari media sosial. Persaingan saat ini semakin multipolar, tantangannya semakin berat. Satu satunya cara yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan informasi yang berkualitas.

“Tantangan yang dihadapi karena setiap pemilik akun media sosial merasa bisa menjadi wartawan, tapi hal ini bisa dibedakan berdasarkan profesionalnya. Pun Media tidak berkubu-kubu, tidak dimana-mana, tapi ada di mana-mana,” tandasnya yang juga menambahkan, dalam bermedia sosial tidak bisa sembarangan, diperhatikan ruang publik, bijak, dan berkualitas.

Sedangkan Bagir Manan, Ketua Dewan Pers 2010-2016 menyampaikan pers harus menjadi dirinya. Tidak mungkin membunuh media sosial dengan konten tidak terbatas. Melemahnya media mainstream, akibatnya masyarakat haus dan akan mengakses informasi lainnya.

Pemilu berkualitas kalau proses pemilu itu dapat memenuhi standar standar yang baik misalnya, jaminan fairness, jaminan adanya kejujuran, kebebasan dalam sarana dan prasarana yang dipersiapkan dalam pemilu. Jadi semua itu saat ini masih dalam proses, bagaimana mendorong pemilu itu berjalan dengan baik.

Lantas apa yang mesti dilakukan pers, sering dikatakan bahwa salah satu unsur pers adalah menyampaikan informasi yang benar dan itu tidak salah. Pers untuk negara Indonesia dengan satu kondisi masyarakat yang masih menggunakan sistem “token” masih tidak cukup. Peran pers harus berfungsi sebagai pencerah masyarakat terutama dalam pemilu.

Pers harus menjadi mata dan telinga, sehingga proses yang dijalankan itu memenuhi standar-standar menghasilkan pemilu yang baik. Demokrasi sebagai bentuk peradaban yang berjalan sesuai dengan argumentasi bukan adu kekuatan.

“Pers tidak cukup menyampaikan informasi, tapi harus melalui proses-proses namun disisi lain pers berupaya memberikan pencerahan pada masyarakat,” tutupnya.

Dalam acara yang dihadiri ratusan awak media di Bali ini menghadirkan pembicara Ahmed Kurnia (Tenaga Ahli Ditjen IKP), Bagir Manan (Ketua Dewan Pers 2010-2016), Bambang Harimukti (Wakil Ketua Dewan Pers 2010-2013), Agus Sudibyo (Anggota Dewan Pers 2010-2013), Wiryanta (Direktur Informasi dan Komunikasi PMK). Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Pers oleh Ketua PWI Bali, IGN Dwikora Putra.(red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan