RonaTeras Berita

Festival Perdamaian 2018 – Perbedaan Itu Indah, Bali Barometer Perdamaian

Foto - Festival Perdamaian 2018 di wantilan DPRD Provinsi Bali.

DENPASAR – Festival Perdamaian 2018 yang ke-6 di Indonesia kembali digelar. Festival pertama di Bali ini dibuka Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Suyasa dihadiri tidak saja perwakilan organisasi juga kalangan pelajar dari SMP hingga mahasiswa.

“Ini festival perdamaian yang ke 6 kalinya di Indonesia dan pertama di Bali,” ujar Ketua Panitia Ali bin Zed di sela-sela acara yang berlangsung di wantilan DPRD Bali, Minggu (9/9/2018).

Dijelaskan Peace Generation merupakan organisasi yang bergerak di bidang anti kekerasan, anti radikalis dan perdamaian. Di Bali pihaknya bermitra dengan Peace Maker of Indonesian Society dan merancang acara ini menjadi 4 hari. Rangkaian yang 3 hari ada agent of peace submit.

Foto -Ketua Panitia Ali bin Zed bersama Kadis Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha.

“Agent of peace adalah sebutan untuk teman-teman kita yang sudah mengikuti training dari peace generation namanya training 12 perdamaian. Nah setelah mengikuti 12 perdamaian ini maka akan disematkan label agent of peace atau agent perdamaian,” jelas Ali.

Agent of peace dari Aceh sampai Kupang ini datang ke Bali dan kumpul di Tabanan di safe house.

“Kita kumpul sekitar 60-an orang, untuk saling sharing apa yang menjadi tantangan pergerakan yang mendorong perdamaian di daerahnya masing masing. Apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah berhasil sukses dan apa yang masih menjadi kendala,” tambahnya seraya mengatakan hari ini merupakan puncak dari perayaannya.

Diharapkan setelah acara ini yang hadir dari beberapa organisasi, pemerintah maupun dari siswa sekolah ataupun mahasiswa yang akan menjadi agen-agen perdamaian bisa menjaga Bali untuk tetap menjadi barometer perdamaian di Indonesia.

Diakui, akhir akhir ini memang marak isu yang sangat ekslusif dari beberapa kelompok kelompok tertentu mulai dari isu agama hingga rasial. Itu yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan menggoyahkan keutuhan bangsa kita.

“Jadi kita dari peace generation memang menanamkan sejak awal pentingnya perdamaian. Kita memang berbeda, tapi tidak harus bermusuhan, berbeda kita tetap bersatu. Berbeda itu memang kehendak Tuhan. Jika memang tuhan menghendaki kita pasti diciptakan seragam, satu agama atau satu etnis misalnya. Tapi nyatanya kita lahir dari berbagai macam latar belakang dan agama, itu memang kehendak Tuhan. Jadi tidak perlu memaksakan kehendak kelompok tertentu,” tegas Ali yang juga Ketua Charter for Compassion itu.

Foto – Partisipan Festival Perdamaian 2018.

Mewakili Gubernur Bali, Kadis Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha mengapresiasi festival perdamaian yang digagas oleh Peace Generation. Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat berkesinambungan hingga ke seluruh pelosok Bali.

“Kami punya kepentingan untuk kegiatan ini. Kenapa, karena Bali merupakan daerah pariwisata yang butuh kedamaian, perdamaian dan keharmonisan. Kalau itu sampai terganggu maka terjadi keterpurukan di segala hal, terutama ekonomi masyarakat Bali,” terangnya.

Hal yang sama diungkapkan wakil ketua DPRD Bali, I Nyoman Suyasa. Perdamaian menurutnya sangat penting dan harus dipelihara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap utuh.

Foto – Wakil Ketua DPRD Bali, I Nyoman Suyasa.

“Isu intoleransi itu kan dari dulu ada, dan menjadi bumbu di masyarakat. Akan bertambah runyam jika isu-isu tersebut dibawa ke dalam ranah politik. Kami bersyukur di Bali kerukunan antar umat beragama berjalan baik, sehingga harapannya dengan gema perdamaian ini akan menjadi contoh untuk daerah-daerah lain di luar Bali,” ucap Suyasa.

Suyasa dalam sambutannya juga mengatakan kegiatan ini sangat positif. Perdamaian menurutnya sangat penting dan harus dipelihara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap utuh. Apalagi menyangkut Bali yang notabene daerah tujuan pariwisata.

“Keamanan dan kedamaian di Bali merupakan harga mutlak, Bali itu barometernya,” tandasnya. (red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan