RonaTeras Berita

FH Dwijendra University Bekali Wisudawan Kemampuan Akademis dan Soft Skill Hadapi Revolusi Industri 4.0

(foto : Ist) Dekan Fakultas Hukum Dwijendra University, Dr. I Wayan Arka, S.H., M.H.,  bersama para wisudawan dan para pengajar.

DENPASAR –  Lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi berkewajiban meningkatkan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Tujuannya agar masyarakat Indonesia tidak tergilas oleh perubahan yang terjadi.

Revolusi industri 4.0 beberapa waktu terakhir menyita perhatian semua pihak. Pasalnya pergeseran era itu diprediksi membawa perubahan fundamental terhadap sendi kehidupan manusia. Otomatisasi pun disebut membuat 75 hingga 375 juta pekerjaan hilang. Kondisi itu tentu memerlukan perhatian serius dari seluruh kalangan.

Dekan Fakultas Hukum Dwijendra University, Dr. I Wayan Arka, S.H., M.H., menjelaskan bahwa pihaknya telah membekali seluruh mahasiswanya dengan soft skills. Menurutnya, kemampuan akademis dan soft skills menjadi modal dasar seorang jebolan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan serta meraup peluang di era revolusi industri 4.0.

“Kami sudah melaksanakan beberapa antisipasi-antisipasi, baik dalam pembenahan kurikulum, juga memberikan pelatihan-pelatihan sekaligus praktek peradilan semu, apalagi beberapa waktu lalu Pak Rektor sudah meluncurkan  Dwijendra Collage. Sehingga nanti semua mahasiswa, tidak saja Fakultas Hukum, juga mahasiswa-mahasiswa dari program studi  lain yang tergabung kedalam Dwijendra College akan dibekali soft skill,” sebutnya disela-sela Yudisium dan Pelepasan Sarjana Hukum XXXI dan Magister Hukum VI Dwijendra University, di Aula Sadhu Gocara Yayasan Pusat Dwijendra, Jumat (13/9/2019).

“Kami tidak mau ketinggalan. Bahwasanya mahasiswa kami harus mampu menjawab tantangan revolusi industri 4.0 itu. Disamping kami melaksanakan pembenahan kedalam, dalam bentuk perubahan kurikulum, kami juga sudah melakukan kunjungan-kunjungan dalam bentuk membuat nota kesepahaman dengan beberapa institusi ilmiah maupun institusi negara. Kami juga mengunjungi perguruan tinggi yang sudah mengantisipasi revolusi industri 4.0,” sambungnya.

Arka memastikan, 147 yudisiawan yang terdiri dari 140 strata satu (S1) dan 7 magister (S2) lulusan Fakultas Hukum Dwijendra University telah mengantongi modal menghadapi revolusi industri 4.0. Hal itu dibuktikan dari terserapnya lulusan didunia kerja yang mencapai 80%. Tidak sebatas mencari pekerjaan, lulusannya disebut wajib memiliki orientasi untuk membuka lapangan kerja baru.

“Jadi ada yang nanti setelah S-1, mereka bisa langsung mendaftar di Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), sedangkan  mahasiswa yang belum bekerja, itu akan melanjutkan kebentuk  soft skill yang lain, dan juga ada beberapa mahasiswa yang ingin melanjutkan ke magister ilmu hukum yang ada di Fakultas Hukum Universitas Dwijendra,” bebernya.

Dari sisi keilmuan, Arka mengemukakan telah membekali mahasiswanya dengan kurikulum berbasis kekinian. Seperti contoh pada mata kuliah hukum bisnis yang secara spesifik mengajarkan tentang e-commerce. Ia berpandangan mata kuliah khusus e-commerce itu sangat penting, agar lulusan ilmu hukum Dwijendra University mengetahui seluk beluk kejahatan maya.

“Saat ini  cyber crime yang sering diwacanakan oleh pemerintah dan  warga masyarakat, sudah kami antisipasi dengan memberikan pelatihan-pelatihan tertentu kepada mahasiswa bagaimana mengantisipasi kejahatan-kejahatan yang sifatnya maya, seperti itu. Seperti misalnya tadi e-commerce,” paparnya.

Terkait dengan e-commerce Arka lantas mengilustrasikan,  orang tidak harus datang ke Indonesia atau Bali untuk melakukan perjanjian bisnis. Mereka boleh tetap tinggal di rumah, asalkan menguasai IT, mereka bisa membuat suatu perjanjian. Dan perjanjian itu sah. Jadi apa yang mereka buat dalam bentuk seperti itu juga sah. Karena kan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang sudah menjelaskan tentang itu,” tutup Arka. (red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan