RegionalTeras Berita

IMice, Aplikasi Penentu Arah Kebijakan Pembangunan Pertanian

(Foto/Tim)

DENPASAR – Hadirnya Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (iMace), aplikasi pertanian disebut sebagai sumber informasi sekaligus berisi teori pemasaran produk pertanian yang sebenarnya dibutuhkan petani serta pemangku kebijakan dalam menentukan arah kebijakan pembangunan pertanian. Dalam aplikasi ini ada informasi diversifikasi ekspor, negara tujuan ekspor, kebutuhan dan lain sebagainya.

“Dengan adanya aplikasi ini kita bisa melihat peluang serta mewujudkan daya saing petani,” ucap Kadis Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikurtura Provinsi Bali, IB Wisnuwardhana usai menerima aplikasi tersebut dari Kepala Barantan, Ali Jamil saat melepas ekspor 16 jenis komoditas pertanian sekaligus di Denpasar, Senin (29/4/2019).

Disebutkan, hadirnya aplikasi supaya pemerintah daerah bisa membuat kebijakan pengolahan pertanian, karena yang ada di aplikasi itu merupakan data. Harapannya gubernur, bupati, walikota pengambil kebijakan di daerah bisa memanfaatkan data itu untuk bisa dijadikan landasan pembangunan pertanian kedepannya.

Karena dalam aplikasi iMice berisi data-data ekspor komoditas pertanian. Misal, Manggis apakah benar hanya dari Bali, kemana saja Manggis ini dikirim, negara tujuannya, mana saja daerah penghasil Manggis, komoditas apa yang diminta, kapan dimintanya, berapa banyak yang diminta, siapa saja kompetitier kita, semua data lengkap ada di aplikasi.

Foto – IB Wisuwardhana.

Senada dengan apa yang disampaikan Kadis Wisnuwardhana, Kepala Barantan, Ali Jamil juga menyatakan, hadirnya aplikasi ini juga untuk mengetahui puncak kebutuhan suatu negara, jadi ketika mereka banjir produk, kita tidak usah masuk, cari negara lain yang harganya bagus. Karena kalau lagi banjir produk, pasti harganya turun. Kita inginkan produk pertanian kita bisa berdaya saing terus.

Lantas ia menyarankan pada para eksportir kalau bisa melakukan ekspor produk setengah jadi supaya harganya meningkat. Contoh, kelapa kalau hanya diekspor dalam bentuk segar harganya standar, tapi kalau itu dipecah kemudian dijadikan nata de coco, hydro coco, atau apapun, pasti harganya akan beda. Atau kalau manggis bisa saja jadi sirup, manisan, atau lainnya.

“Ini yang kita maksud memberikan nilai tambah bagi petani, petani memiliki daya saing, buat terobosan,” tukasnya sembari menambahkan komoditas ekspor kedepannya bukan hanya di hulu tapi kalau bisa sampai hilir. “Industri harus ditumbuhkan, daya saing diciptakan,” sebutnya.

Dalam kesempatan ini ia juga menyampaikan harapannya agar para eksportir membagi sebagian keuntungannya ke petani. Jangan sampai petani hanya dijadikan perahan, namun harganya dimainkan sendiri oleh eksportir. Perlu adanya transparansi agar petani juga bisa merasakan hasil keringat mereka. Kita minta harga kewajaran. Tapi untuk menuju kearah sana, petani sebaiknya membuat kelompok, musababnya kalau hanya bergerak perorangan marginnya kecil, lagipula akan mengalami kesulitan terkait pasokan. “Bangunlah kawasan pembangunan pertanian terpadu,” saran Ali Jamil. (wie)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan