Rona

Jenis Virus Ebola Yang Baru Muncul di Afrika Barat

Jenis Virus Ebola Yang Baru Muncul di Afrika Barat

Jenis virus Ebola yang baru ditemukan di Sierra Leone, negara di kawasan Afrika Barat. Virus Ebola baru ini, ditemukan setelah dua tahun berakhirnya wabah Ebola di Afrika Barat yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang.

Peneliti menemukan jenis baru virus Ebola ini pada banyak kelelawar di Sierra Leone. Hingga saat ini, peneliti masih belum mengetahui apakah virus Ebola ini sudah menular ke manusia, seperti virus-virus Ebola sebelumnya yang mematikan.

“Pada saat ini, belum diketahui apakah virus Bombali Ebola ini telah ditularkan atau menyebabkan penyakit pada manusia, tetapi virus ini memiliki potensi untuk menginfeksi sel manusia,” kata seorang pejabat Kementerian Kesehatan Sierra Leone Amara Jambai kepada AFP.

Menurut Jambai, penemuan virus Ebola baru ini masih berada pada tahap awal. Dia meminta masyarakat Sierra Leone untuk tetap tenang sambil menunggu penelitian lebih lanjut.

Juru bicara Kementerian Kesehatan dan peneliti yang bekerja sama dengan pemerintah Sierra Leone juga mengonfirmasi penemuan virus Ebola baru ini. Mereka kini tengah mencari kemungkinan ada manusia yang terinfeksi spesies baru Ebola ini.

“Sebagai tindakan pencegahan, orang-orang tidak boleh makan kelelawar,” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Sierra Leone Harold Thomas kepada AFP.

Ebola merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Virus yang menular melalui cairan tubuh ini dapat memicu infeksi yang sangat fatal.

Gejala dari demam Ebola meliputi lelah, demam, diare, mual dan muntah. Pada tahap lanjutan dapat menimbulkan ruam, mata merah, nyeri dada, nyeri tenggorakan, kesulitan bernapas, kesulitan menelan dan pendaran.

Virus Ebola ini pertama kali muncul disebabkan oleh spesies Zaire pada 1976. Wabah Ebola terburuk yang pernah terjadi adalah pada Desember 2013 saat menyerang Liberia dan Sierra Leone.

Berdasarkan data WHO, virus ini telah menelan lebih dari 11.300 korban jiwa dari 29 ribu kasus. Secara resmi, WHO menyatakan wabah ini telah berakhir pada 2016 lalu

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan