RonaTeras Berita

Ketua Yayasan Jagadhita – Pesimis Merger PTS Lancar Akibat Benturan Kepentingan

DENPASAR – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan mampu mengurangi 1.000 perguruan tinggi swasta (PTS) hingga akhir 2018 mendatang. Hal ini dilakukan melalui mekanisme merger atau menggabungkan menjadi satu beberapa PTS dengan jumlah mahasiswa dan program studi yang sedikit

Namun sejumlah pimpinan perguruan tinggi dan pimpinan yayasan yang menaungi PTS pesimis target tersebut dapat tercapai. Sebab merger ini dirasakan berat dan penuh tantangan.

“Tidak mudah merger PTS ini. Karena semua punya kepentingan,” ujar Ketua Ketua Yayasan Jagadhita (yang menaungi Universitas Ngurah Rai-UNR) Dr. Drs. Anak Agung Gede Raka, M.Si., Jumat (31/8/2018) saat ditemui di kampus UNR Denpasar.

Menurutnya ada potensi benturan kepentingan diantara PTS yang hendak digabungkan menjadi satu. Masing-masing lembaga juga punya kecenderungan ingin bertahan sendiri. Belum tentu mau bergabung atau digabungkan dengan PTS lain.

“Secara manajemen mereka sebelumnya berbeda. Tapi kini mau digabungkan. Tentu masing-masing ingin bertahan dengan lembaganya,” katanya.

Kalaupun bergabung ada juga potensi konflik internal berupa perebutan jabatan-jabatan strategis. Belum lagi bicara komposisi kepemilikan dan juga status hukum yayasan yang menaunginya.

“Akan menimbulkan masalah baru setelah merger. Itu tidak mudah. Jadi ini merger ini bukan solusi paling tepat,” tegas Raka yang juga mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemda Gianyar itu.

Ketimbang merger, Raka lebih sepakat jika ada upaya peningkatan kualitas PTS yang sudah ada. Lalu diimbangi dengan memperketat pendirian PTS baru. Apalagi yang membuka prodi yang sama dengan perguruan tinggi yang sudah eksis.

“Pemerintah ingin mengurangi jumlah PTS tapi tidak serius. Jadi ketimbang merger, solusi terbaik adalah meningkatkan kualitas,” tegasnya.

Peningkatan kualitas inilah juga yang menjadi fokus dan prioritas UNR. Mulai dari peningkatan sarana prasarana hingga kualitas dosen agar semuanya bergelar doktor (S-3).

“Kami terus meningkatkan kualitas dosen yang mau kuliah S-3 kami bantu dana subsidi Rp 50 juta. Selain juga kami galakkan penelitian dan kerjasama nasional maupun internasional,” tandas Raka.(red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan