EkbisRegional

LisDes – Masyarakat Banjar Blantingan Tak Lagi Lakukan Overspanning Listrik

Bangli – Bertahun-tahun masyarakat Desa Pengejaran khususnya Banjar Blantingan, Kintamani, Bangli tidak pernah secara langsung merasakan sambungan listrik. Bahkan untuk sekedar menghidupkan lampu mereka terpaksa harus menarik listrik (over spanning) dari desa yang jaraknya mencapai 2km. Namun kini mereka bisa tersenyum bahagia, pasalnya melalui program Listrik Desa (LisDes) PLN kini masing masing rumah tangga yang berjumlah sekitar 40 KK sudah bisa menikmati listrik sendiri.

Salah seorang warga Banjar Blantingan, Wayan Dika menyatakan dengan masuknya listrik ke daerahnya ia beserta warga lain merasa sangat terbantu.

“Secara ekonomi dengan masuknya listrik ini kami merasa terbantu. Biasanya listrik itu kami gunakan untuk setrika, penerangan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya,” ucapnya sumringah seraya berujar biaya yang dikeluarkan pun sudah bisa direncanakan, Kamis (16/8/2018).

GM PT PLN Distribusi Bali (Persero) Nyoman Suwarjoni Astawa didampingi Camat Kintamani, Kelian Subak, Kelian Dusun Blantingan yang hadir langsung dalam kesempatan ini menyampaikan, berdasarkan data yang dimiliki PLN 35 ribu masyarakat yang sudah menikmati listrik tapi dengan menumpang. Pihaknya akan mengupayakan hingga akhir tahun ini masyarakat bisa menikmati listrik.

“Salah satunya di Desa Pengejaran dengan dibangunnya satu gardu bisa mengaliri 40 KK yang sebelumnya mereka melakukan over spanning, jadi mereka menarik jaringan dari saudara atau keluarganya di desa yang jaraknya cukup jauh,” ujar Astawa.

Kalau dari data yang dimiliki rasio elektrofikasi di Kabupaten Bangli sudah hampir 92 persen. Merujuk pada hasil survei yang dilakukan oleh Universitas Udayana jumlah KK versi BPS itu jauh lebih besar daripada jumlah KK sebenarnya yang ada di Kabupaten Bangli. “Sehingga kalau kita lihat dari kondisi tersebut jumlah pelanggan yang ada saat ini dibagi dengan jumlah KK berdasarkan survei dan juga Dukcapil yang ada di Bangli itu sebenarnya rasio elektrofikasinya sudah mencapai 92 persen,” tandasnya sembari berharap tahun ini paling tidak rasio elektrofikasi diatas 92 persen walaupun kenyataannya di lapangan sudah hampir mencapai 100 persen yang menikmati listrik.

Ia juga menyampaikan kendala utama yang kerap dihadapi PLN yaitu akses jalan juga topografi daerah yang merupakan daerah perbukitan dimana masyarakatnya hidup di “punguk-punguk” bukit. Belum lagi satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya cukup jauh. “Tiang listrik yang terbuat dari beton ini kan berat, jadi kita butuh akses jalan yang memadai. Tapi kedepannya kita sudah usulkan untuk daerah pelosok bisa menggunakan tiang dari besi yang bisa dipanggul 2 atau 3 orang,” kata Astawa memberikan solusi bagaimana masyarakat di pelosok akhirnya nanti bisa menikmati listrik.

Ia juga berharap kerjasama dengan semua pihak bisa kiranya menginformasikan di daerah mana yang belum menerima listrik. “Penting bagi kepala desa ataupun kepala dusun menginformasikan ke PLN daerah mana yang belum menerima listrik, pasalnya merekalah yang mengetahui kondisi sebenarnya,” katanya menutup.(red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan