EkbisTeras Berita

Made Ramia Prihatin Industri Pariwisata Bali Krisis Kepemimpinan

(foto – Tim) Tokoh pariwisata yang juga General Manager (GM) Hotel Sovereign Bali, I Made Ramia Adnyana, SE,.MM.,CHA

BADUNG – Rupanya maraknya industri pariwisata Bali saat ini belum diimbangi dengan terangkulnya secara maksimal tenaga kerja lokal. Bahkan posisi tenaga lokal profesional di industri pariwisata khususnya hotel terbilang masih minim.

Apalagi untuk menduduki posisi puncak layaknya General Manager, porsinya masih 35 persen, lagipula hal ini diperparah dengan para pemilik industri yang belum bahkan tidak memberikan posisi GM tersebut kepada tenaga lokal, padahal mereka memiliki kemampuan yang sebanding, bahkan lebih.

“GM hotel di Bali kebanyakan dikuasasi orang luar. Bahkan banyak posisi penting dipegang orang asing,” ujar tokoh pariwisata yang juga General Manager (GM) Hotel Sovereign Bali, I Made Ramia Adnyana, SE,.MM.,CHA dalam “1st Annual Hotelier Summit Indonesia 2019” yang digelar Global Hospitality Expert (GHE) di Hotel Sovereign Bali, Sabtu (13/7/2019).

Menurut Ramia, Bali boleh dikatakan krisis kepemimpinan di industri pariwisata. Hal ini terlihat dengan adanya dominasi tenaga asing yang memegang posisi strategis.

“Di hotel-hotel berbintang sekitar 45 persen dipegang GM asing. Yang dari luar Bali juga banyak,” tambah Ramia.

Sementara kalau melihat di sejumlah negara tetangga, untuk posisi puncak kebanyakan dipegang warga lokal. Seperti Singapura dan Thailand, untuk posisi GM di industri pariwisata hanya sekitar 15 persen saja diisi asing, yang 85 persen orang lokal.

“Kita di Bali yang memiliki kontribusi pariwisatanya 65 persen dari nasional, jabatan GM itu hanya sekitar 35 persen dipegang lokal,” ujar Ramia.

Padahal kalau soal kemampuan, warga lokal tal kalah dengan yang dari luar. Umumnya posisi penting itu juga terkait dengan kepemilikan serta sistem manajemen yang diterapkan seperti hotel chains.

Ke depan leadership ini menjadi hal penting dalam kegiatan pariwisata. Untuk itu di hari kedua “1st Annual Hotelier Summit Indonesia 2019” ini, masalah leaderahip mendapat perhatian serius dan menjadi salah satu topik yang dibahas.

“Kalau leadership ini bisa ditingkatkan, maka banyak tenaga kerja lokal dalam level tertentu bisa mengisi peluang yang ada,” tambah praktisi pariwisata asal Karangasem ini.

Selain itu, peran pemerintah dalam pemberdayaan tenaga kerja lokal profesional sangat diperlukan. “Pemerintah juga bisa mendukung dengan kebijakan yang ada sehingga ke depannya tenaga lokal tak tersisih,” tambahnya.(wie)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan