ParlementariaTeras Berita

Mudarta Anggap Wacana Dirinya Diganti Plt Sebagai “Pil Pahit”

Foto - I Made Mudarta.

DENPASAR – Santernya pemberitaan yang mewacanakan Ketua DPD Demokrat Bali, I Made Mudarta yang akan diganti Plt akibat kinerja Demokrat Bali yang dianggap kurang greget menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) 2029 rupanya ampuh memantik reaksi Mudarta yang langsung turun gunung. Beserta sejumlah pengurus DPD Partai Demokrat Bali seperti sekretaris Wayan Adnyana yang juga Ketua Fraksi Demokrat DPRD Bali, bendahara Wayan Sada, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles yang juga caleg DPR RI, Wakil Ketua Satu (Wakasat) Nengah Pringgo, Ketua Okaka I Ketut Ridet dan Dewan Kehormatan Ngurah Santika, langsung menggelar koperensi pers di Sekretariat DPD Demokrat di Denpasar, Senin (14/1/2018).

Mudarta menilai wacana itu sebagai bentuk peringatan agar DPD dan DPC Demokrat Bali bersama seluruh kader bekerja keras dan berjuang maksimal dalam kurun waktu tiga bulan ke depan menuju Pileg 17 April 2109.

“Pemberitaan Demokrat Bali loyo itu jeweran bagi kami. Kami perlu pil pahit. Kalau dikasi ‘gula’ dan berita bagus-bagus, kami akan leha-leha dan ibarat kena penyakit gula,” kata Mudarta dalam keterangan pers dihadapan awak media.

Mudarta mengakui adanya hasil survei RTK (Roda Tiga Konsulting) tentang kinerja DPD Demokrat seluruh Indonesia yang disampaikan pada rapat konsolidasi internal pengurus DPD Partai Demokrat se-Indonesia dengan pengurus DPP di Jakarta pada 10-11 November 2018, yang juga dihadiri seluruh caleg DPR RI.

Hasil survei ini yang sebagaimana juga disampaikan Wakil Sekjen DPP Demokrat Putu Supadma Rudana saat ditemui di Gianyar, Minggu (13/1/2019) di sela-sela acara bersama warga menyebutkan bahwa mesin partai Demokrat di Bali khususnya DPD belum bekerja maksimal alias kendor.

Sosialisasi dan pengenalan progam Partai Demokrat ke masyarakat juga sangat lemah. Salah satu indikatornya misalnya terbatasnya atribut partai yang dipasang misalnya pada hari besar atau hari peringatan tertentu.

Mudarta menyebutkan dalam survei itu tren Demokrat secara nasional sudah mulai bagus dan elektabilitasnya juga naik karena caleg mulai bekerja di dapil masing-masing. Namun memang ada catatan khusus untuk Bali.

“Memang dari hasil survei itu, kalau Pileg dilakukan awal November 2018, suara dari Demokrat Bali di bawah rata-rata nasional. Jadi arahan DPP, Bali perlu treatment khusus dan caleg agar semuanya bergerak,” ungkap Mudarta.

Namun Mudarta kembali mengingatkan bahwa dalam Pileg bukan hanya mesin partai atau pengurus partai yang bergerak tapi yang lebih memengaruhi perolehan suara partai adalah caleg bersangkutan.

“Dalam Pileg yang jadi bintang adalah caleg. Kalau calegnya bagus akan dikenal dan dicoblos lalu bisa terpilih,” tegas politisi Demokrat asal Jembrana itu.

Sementara tugas utama pengurus partai adalah meyakinkan konsolidasi internal dan diantara kader serta caleg berjalan bagus. Lalu menjaga harmonisasi partai agar jangan ada caleg saling bertengkar ibarat “jeruk makan jeruk”.

“Kami yakinkan juga semua alat peraga caleg dan partai dipasang sesuai titik yang ditetapkan KPU dan diawasi Bawaslu. Jangan dilanggar,” imbuh Mudarta.

Terkait pernyataan Supadma Rudana bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri sudah memberikan sinyal akan adanya Plt ini sebagai evaluasi atas kinerja DPD Demokrat Bali, bahkan “bola” Plt sudah di kantong SBY, Mudarta mengakui hal itu hanya bagian dinamika komunikasi politik.

Ia beralasan  apa yang disampaikan Supadma Rudana yang juga Korwil DPP Demokrat untuk Bali, NTB, dan NTT itu dianggap wajar sebagai upaya untuk kembali mengingatkan DPD dan seluruh caleg Demokrat untuk bekerja keras.

“Jadi kewajiban Pak Supadma Rudana memberikan jeweran. Komunikasinya disesuaikan dengan kondisi lapangan yang lagi hot. Wacana Plt ada di kantong Pak SBY itu upaya Pak Supadma Rudana untuk memanaskan kembali mesin partai,” ungkap Mudarta.

Jika sebaliknya disampaikan informasi bahwa Demokrat Bali sudah aman meraih suara dan kursi legislatif di Pileg maka bisa saja pengurus, kader dan caleg Demokrat di Bali malah berleha-leha dan merasa sudah di zona nyaman. Jadi tidak akan mau bekerja keras lagi.

“Pak Supadma Rudana adalah Korwil Bali, panglima lapangan. Pak SBY membahas dalam tataran strategis dan evaluasi DPP Bali memang wajib kerja keras. Jadi wajar ada teguran kepada kami. Kalau disampaikan Demokrat di Bali sudah 15 persen, bagus, maka caleg kami tidur. Jadi tentunya perlu diingatkan,” beber Mudarta.

Ia pun mengaku optimis dengan kekompakkan pengurus, kader dan caleg Demokrat di Bali, rakyat Bali makin suka dengan Demokrat. Sebab rakyat juga ingin keteduhan dan diberikan contoh oleh elitnya.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Wakil Sekjen DPP Demokrat Putu Supadma Rudana menyebutkan keputuan Plt terhadap Ketua DPD Demokrat Bali ada di tangan SBY. “Sekarang bolanya ada di tangan Pak SBY. Untuk Plt (Ketua DPD Demokrat Bali-red) tinggal menunggu perintah Pak SBY,” kata Supadma Rudana saat ditemui di Gianyar, Minggu (13/1/2019) di sela-sela acara bersama warga.

“Sebenarnya Demokrat Bali kurang di panglimanya saja. Pasukan siap. Tapi yang memimpin tidak greget,” imbuh Supadma Rudana yang juga anggota Fraksi Demokrat DPR RI itu.

Atas lemahnya kinerja DPD Demokrat Bali dan tidak berjalannya mesin partai Supadma Rudana yang kini duduk di Komisi X DPR RI itu meminta DPD dan kader Demokrat seluruh Bali berpikir objektif demi besarnya partai.

“Kita objektif saja. Survei RTK katakan DPD lemah. Kader bingung. Itu kesalahan panglimanya. Kalau tidak mau mundur nunggu Plt,” tegas Supadma Rudana yang dalam Pileg 2019 maju sebagai caleg petahana DPR RI dari Partai Demokrat dapil Bali nomor urut 1. (Red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan