Regional

Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa Menuju Denpasar Bebas Pasung

Foto: Pelatihan kader kesehatan jiwa kecamatan Denpasar Selatan, Selasa (3/3/2020) di Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar.

 

DENPASAR – Kota Denpasar terus berbenah meningkatkan kualitas kesehatan warganya, termasuk dalam bidang kesehatan jiwa, terlebih berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Bali menempati urutan pertama jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Indonesia.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Kota Denpasar bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI), dan STIKES Bina Usada mengadakan pelatihan kader kesehatan jiwa kecamatan Denpasar Selatan, Selasa (3/3/2020) di Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes mengatakan, pelatihan kader kesehatan jiwa nantinya akan dirancang untuk mewujudkan desa sadar sehat jiwa. Namun, katanya, yang perlu dicatat adalah bukan berarti di desa tersebut tidak ada warga yang mengalami gangguan jiwa.

“Jadi, yang sehat tetap sehat, dan yang mengarah ke gangguan jiwa tidak menjadi sakit jiwa, atau jika pun didiagnosis mengalami gangguan jiwa akan tetap diobati. Hal ini perlu digarisbawahi agar tidak salah kaprah,” katanya.

Ia menambahkan, di Kota Denpasar para ODGJ telah tertangani dengan baik, apalagi kini Puskesmas telah menyediakan layanan kesehatan mental termasuk penyediaan obat gangguan jiwa. Juga, bagi ODGJ yang telah pulih telah disediakan tempat pemberdayaan yakni di Rumah Berdaya yang berlokasi di Sesetan, Denpasar Selatan.

“Kegiatan pelatihan kader kesehatan jiwa sangat bagus dan penting. Kami Dinas Kesehatan dan juga dinas-dinas yang lain di Kota Denpasar tidak bisa bekerja maksimal tanpa dukungan masyarakat. Termasuk kader kader kesehatan jiwa yang juga bagian dari masyarakat,” katanya.

Tambahnya, para kader kesehatan jiwa yang pertama kali menemukan misalnya ada ODGJ atau orang yang mempunyai masalah kejiwaan di wilayah mereka tinggal.

“Tentu perlu diberi pelatihan sebab mereka bukan perawat atau dokter, bagaimana berkomunikasi dengan ODGJ dan keluarga ODGJ dan mengajak berobat ke layanan kesehatan mental terdekat,” ujarnya

Sementara itu, pendiri KPSI Simpul Bali, I Gusti Rai Putra Wiguna menyebut, pelatihan ini adalah langkah untuk mewujudkan Denpasar bebas pasung. Jadi setiap desa atau kelurahan diharapkan memiliki kader kesehatan jiwa, yang salah satu tugasnya melakukan deteksi dini ke rumah-rumah untuk mengetahui apakah ada warga yang mengalami gangguan jiwa berat dan belum berobat Termasuk juga mendeteksi juga orang dengan masalah kesehatan jiwa.

“Istilahnya ODMK, yakni orang yang belum mengalami penyakit jiwa tapi berpotensi besar memiliki masalah kesehatan jiwa misalnya setelah kehilangan orang terdekat, perceraian, atau mengalami kekerasan. Jadi baru masalah saja dan itu akan dideteksi oleh kader kesehatan jiwa. Termasuk nanti jika sudah mendapat pengobatan juga ikut mendukung keluarga untuk mengawasi pemberian obat secara rutin,” ujar psikiater ini.

Dijelaskan, pelatihan kader kesehatan jiwa ini sebelumnya sudah dilaksanakan di dua puskesmas berjumlah 57 orang termasuk pelatihan bagi dokter umum dan para perawat kesehatan jiwa. Semua ini akan mengarah ke pembentukan desa atau keluarahan sadar sehat jiwa.

“Kami juga punya data yang terintegrasi, baik yang berobat di puskesmas atau rumah sakit di mana jumlah pengidap gangguan jiwa di Kota Denpasar yang sudah tertangani adalah 529 orang. Data meliputi nama, alamat, jenis obat dan kapan habisnya. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya pemasungan,” katanya. (Aya)

 

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan