RonaTeras Berita

Petitenget Festival Hadirkan Aura Mistis “Bhuto Ijo”

AA Bayu Joni Saputra

BADUNG – Ada hal unik dan menarik dari  Petitenget Festival yang akan berlangsung selama tiga hari (14-16 September 2018) di Pantai Petitenget, Kerobokan, Badung.

Festival yang baru pertama kali digelar Desa Adat Kerobokan ini mencoba membangkitkan kembali spirit raksasa mistis Butho Ijo. Sosok raksasa sakti ini dikenal dalam legenda sebagai pahlawan penjaga dan pelindung daerah Kerobokan sepeninggal Dang Hyang Niratha yang melanjutkan perjalanannya menuju Pura Uluwatu.

Untuk itu, sosok Butho Ijo ini menjadi ikon fetival ini. Hal tersebut diungkapkan Ketua Panitia Petitenget Festival, AA Bayu Joni Saputra. Ia mengatakan nuansa mistis Butho Ijo yang unik akan merasuk ke dalam setiap unsur penyelenggaraan festival, dan kisahnya menarik akan diceritakan dalam bentuk fragmentari.

“Nuansa mistis festival ini dan “lahirnya kembali” sosok raksasa Butho Ijo juga semakin terasa dengan keberadaan patung Butho Ijo di areal Pantai Petitenget tempat festival berlangsung. Bahkan sosok Butho Ijo ini telah diupacarai melalui berbagai rangkaian upakara atau ritual untuk “menyatu” dalam patung ini.

“Ada pula semacam pelinggih sanggar tawang di dekat patung Butho Ijo ini untuk masyarakat dan pemangku setempat menghaturkan persembahan,” sebut Joni Saputra, saat ditemui Kamis (13/9/2018) di Kerobokan. Hal itu juga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama penyelenggaraan Petitenget Festival ini.

Misalnya mengantisipasi kerauhan massal saat dua ribu penari Bali menampilkan Tari Tenun yang juga akan memecahkan rekor MURI. Kekhawatiran publik akan adanya kerauhan massal tentu berkaca pada kejadian saat peluncuran Tari Rejang Sandat Ratu Segara pada Pembukan Tanah Lot Art and Food Festival II, Sabtu (18/8/2018).

Apalagi suasana mistis juga kian terasa dengan adanya penampilan Calonarang kolosal dan juga Wayang wong. Namun menurut Joni, kalaupun ada kerauhan pada penari, itu hal lumrah di Desa Adat Kerobokan. “Kerauhan itu bukti pragina hadir. Asal tidak berlarut-larut,” terang pria yang akrab disapa Gus Joni itu.

Namun upaya antisipasi tetap dilakukan. Baik melalui rangkaian ritual seperti matur piuning, nunas tirta, ngelarung ke segara kidul dengan sesajen persembahan kacang-kacangan dan  bunga melati. Lalu menghaturkan lalaban (sesajen) untuk  Butho Ijo. Termasuk pasupati patung Butho Ijo yang ada di Pantai Petitenget.

Panitia juga menyiapkan puluhan pemangku untuk menangani jika ada kerauhan massal. Ini dilakukan agar jika terjadi kerauhan, tidak sampai meluas. “Semua pemangku siaga dengan membawa tirta untuk mencegah kerauhan meluas. Balawista dengan jet ski juga siaga antisipasi jika terjadi kerauhan di laut,” beber Gus Joni.

Dia mengatakan, selama bertahun-tahun, wilayah yang anker ini (Petitenget) diyakini menjadi kediaman Butho Ijo secara perlahan-lahan telah berkembang menjadi sebuah destinasi wisata dunia yang dinamis. Saat ini, Petitenget menjadi tempat yang senantiasa bertumbuh dengan merangkul semua budaya.

Petitenget Festival (Kerobokan Arts & Spirit 2018) dengan ikon “Bhuto Ijo” ini mengangkat tema “Experience A Festival Centurie in The Making”.  Festival juga dimeriahkan berbagai kegiatan melibatkan ribuan warga dan seniman dari 50 banjar di wilayah Kerobokan, pelaku UKM juga berbagai pelaku pariwisata.

Juga ada pemecahan rekor dua ribu orang menari bersama menampilkan Tari Tenun yang indah dan elegan. Serta ada pula 2.500 peserta yoga ketawa. Lalu pementasan kesenian kontemporer melibatkan sejumlah musisi tanah air dan internasional seperti The Hyndrant, Ray Peni, Gus Teja, Balawan, Dipha Barus dan lain-lain.

Ada juga kesenian tradisional bondres/komedi Celekontong Mas, Calonarang kolosal hingga pementasan Wayang wong yang akan dibangkitkan setelah mati suri selama 72 tahun. Ada juga penampilan Bajang Teruna Desa Adat Kerobokan, lomba memasak kuliner asli Bali, hingga pameran kuliner dan produk UMK.(red)

 

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan