RonaTeras Berita

Sarjana Pertanian Jebolan Dwijendra University Mesti Jadi Job Creator

(foto : Ist) Yudisium ke-31 Sarjana Pertanian Dwijendra University di Denpasar.

DENPASAR – Rektor Dr Ir Gede Sedana, M.Sc., MMA., disela-sela Yudisium ke-31 Sarjana Pertanian Dwijendra University di Denpasar, Senin (9/9/2019) malam berpesan, sarjana baru ini kelak jangan lagi berpikir untuk mencari pekerjaan tapi bagaimana mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

“Apalagi mahasiswa selama perkuliahan sudah saya bekali dengan materi bisnis inklusif, jadi harapannya mereka mesti bisa menjadi job creator bukan job seeker,” ujarnya.

Menurutnya dengan bekal bisnis inklusif mahasiswa pertanian bisa menjadi aktor pasar. Artinya, mereka bisa menjadi produsen, pedagang perantara atau pengolahan. Dalam mewujudkan hal ini rektor bekerjasama dengan Universitas Udayana menambah wawasan tentang bisnis inklusif tersebut.

“Dengan bekal tersebut harapannya mereka bisa  menjadi aktor pasar,” tandas rektor jebolan UNUD ini.

Meski demikian pembekalan kewirausahaan yang diberikan rektor bukan hanya bagaimana menjadi aktor pasar, namun juga harus dibarengi dengan kecerdasan. Artinya, kecerdasan rasional, kecerdasan hati dan kecerdasan spiritual. Tujuannya jika mereka memiliki kecerdasan ini maka para sarjana baru bisa melihat segala sesuatunya dari berbagai sisi, tidak sepenggal-sepenggal.

“Melalui kecerdasan yang mereka miliki maka akan muncul nilai-nilai luhur Dwijendra,” tukasnya.

Rektor Dr Ir Gede Sedana, M.Sc., MMA.

Yudisium ke-31 Fakultas Pertanian tersebut meliputi 55 sarjana dari Prodi Agribisnis dan Prodi Agroteknologi. Rektor pada acara yudisium tersebut juga menyatakan kebanggaannya atas makin tingginya minat warga mengenyam pendidikan di Fakultas Pertanian Dwijendra.

“Tahun ini mahasiswa Fakultas Pertanian naik hampir dua kali. Yang tercatat sudah sekitar 90-an mahasiswa,” ujarnya.

Yudisium yang dihadiri Dekan FP Dwijendra Ir. Ketut Karyati,MP., para dekan, para dosen dan wakil yayasan juga diserahkan piagam penghargaan dari fakultas kepada lima yudisiawan yang berprestasi.

Disamping itu rektor yang dimintai pendapatnya soal alih fungsi lahan pertanian khususnya di wilayah perkotaan yang semakin menyempit berpendapat, masyarakat dan petani masih bisa melakukan kegiatan pertanian melalui pola urban farming yang memang jawaban atas keterbatasan lahan pertanian dengan menanam tanaman jangka pendek.

Jadi menurutnya bukan berarti warga maupun petani tak bisa mengembangkan sektor pertanian di lahan yang relatif terbatas ini.

“Petani dan warga kota bisa kembangkan tanaman yang berumur pendek namun memiliki nilai jual tinggi seperti komoditi hortikultura,” ujar rektor.

Rektor mengatakan dengan lahan sempit dan ketersediaan air yang terbatas memang tak mungkin dikembangkan tanaman padi. Secara ekonomis hal itu juga kurang menguntungkan.

Namun melalui “Urban Farming”, pada lahan terbatas petani termasuk warga kota bisa bertanam sayuran dan produk lainnya yang bernilai ekonomi tinggi.

“Jadi di kota dengan lahan terbatas kita bisa tanam sayuran dan sejenisnya yang dalam waktu hanya beberapa minggu bisa dipanen. Ini hasilnya cukup bagus,” ujar jebolan Fakultas Pertanian Unud ini.

Urban farming merupakan konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat urban.

Di sisi lain, Dr. Sedana menambahkan makin banyaknya sarjana pertanian bisa membantu memberi semacam advokasi kepada petani agar pertanian bisa terus berkembang. Sebab pada intinya petani hanya membutuhkan produksi dan harga yang memadai atas usaha mereka.

“Di sini peran sarjana pertanian memberikan saran dan masukan termasuk juga kepada pemerintah agar bisa membantu menjaga harga pasar. Mereka bisa memproduksi dan menjembatani hasil petani ke pengusaha atau ke pengolahan. Jadi banyak peluang yang bisa dikerjakan selain di bidang advokasi,” tutup Dr. Sedana. (mds)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan