HukrimTeras Berita

Sopir Grab Kecewa Polisi Lambat Tangani Laporannya

(Foto/Ilustrasi/Ist)

DENPASAR – Kekerasan terhadap sopir transportasi online kembali terjadi. Kali ini peristiwa tersebut dialami sopir online Grab bernama Afrit M.B Inguanu (37) yang dikeroyok sekitar 20 orang di areal parkir Swalayan Nirwana Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

“Pelaku pengeroyok, saya tidak ketahui identitasnya, tapi saya menduga mereka sopir transport konvensional,” kata korban saat ditemui di seputaran Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Rabu (3/4/2019).

Korban menerangkan, akibat ditendang dan dipukul beramai-ramai, dirinya mengalami sejumlah luka seperti bengkak di bibir, lecet di dada dan siku kanan, serta memar di bagian punggung.

Kekerasan yang berlangsung, Senin (25/2/2019) malam sekitar pukul 21.00 Wita ini bermula ketika korban ditelepon temannya bernama Welem yang mengatakan sedang di daerah Pecatu. Lantaran tinggal di daerah tersebut, korban lalu mengajak Welem minum kopi di seputaran Swalayan Nirmala di Jalan Uluwatu, Pecatu, Kuta Selatan.

Dalam perjalanan, korban kembali menghubungi Welem dan mendapat jawaban jika ia tengah dikepung puluhan sopir transport yang diduga biasa mangkal di seputaran Pecatu, Blue Point dan Padang-padang. Khawatir terjadi sesuatu, korban langsung menuju Swalayan Nirmala.

Sampai di sana, korban yang tinggal di Perum Ungasan Permai di Jalan Gunung Batur 239, Kuta Selatan, Badung ini melihat temannya dikerumuni banyak orang dan sebagian ada yang berteriak-teriak namun tidak jelas suaranya. Bahkan teman korban disuruh membuat pernyataan yang isinya kurang lebih tidak boleh berada di daerah Pecatu.

“Melihat situasi seperti itu, saya bermaksud mendokumentasikan dengan handphone, namun belum sempat mengambil gambar, handphone saya diambil paksa. Saya kemudian diserang secara membabi buta oleh para pelaku hingga terjatuh ditumpukan tabung gas. Saya juga dipukul dengan triplek dan mengenai leher,” kata korban.

Kalah jumlah, Afrit akhirnya berlari dan masuk kedalam mobil, namun karena handphone miliknya masih berada di tangan pengeroyok, ia membuka pintu mobil untuk turun. Disana ia kembali mendapat beberapa kali pukulan. Puas menganiaya, para pengeroyok kemudian mengembalikan handphone korban.

Yang membuat korban jengkel, polisi terkesan lambat menangani kasus tersebut. Padahal, ia sudah melapor dan diberi bukti laporan polisi nomer : LP-B / 39 / II / 2019/ Polsek Kuta Selatan tertanggal 25 Februari 2019. Saat melapor korban juga menyertakan hasil visum dari RSUP Sanglah Denpasar.

“Saya tidak tau lagi kejelasan kasus saya. Beberapa kali saya mencoba menghubungi pihak Polsek, tidak mendapat jawaban yang jelas. Pihak Polsek intinya menyatakan belum ada bukti kuat sehingga proses penyelidikan masih dilakukan,” kata korban.

Dikonfirmasi terpisah terkait perkembangan kasus tersebut, Paur Humas Polresta Denpasar, Ipda I Gusti Ngurah Putu Parwanita mengatakan akan mengecek terlebih dulu ke Polsek Kuta Selatan. “Coba nanti saya cek ke Polsek Kutsel,” jawab Paur Humas melalui pesan WhatsApp. (agw)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan