NasionalTeras Berita

‘Teknologi Pascapanen’ Jadi Bahasan Para Peneliti di Konferensi Agricultural

BADUNG – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian menyelenggarakan 2nd International Conference on Agricultural Postharvest Handling and Processing (ICAPHP). Kegiatan selama tiga hari mulai 29-31 Agustus 2018 itu mengusung tema “Emerging Agriculture Postharvest Technology: Towards Global Market”.

Isu yang dibahas tengah berkembang di tingkat internasional, di antaranya krisis energi, usaha kecil mikro, ketahanan pangan, limbah pangan, dan kerugian pascapanen. Teknologi pascapanen utamanya yang diterapkan untuk menekan kerugian (losses) yang kisarannya 20-50 persen tersebut menjadi isu utama yang dibahas di International Conference on Agricultural Postharvest Handling and Processing (ICAPHP), Kuta, Badung, Bali.

Konferensi internasional ini dihadiri ratusan peneliti, akademisi, mahasiswa, dan praktisi berbagai lembaga pemerintahan dan swasta bidang pertanian bertemu di ICAPHP, Kuta. Para peserta berasal dari 10 negara, yaitu Irlandia, Prancis, Inggris, Australia, Taiwan, Malaysia, Jepang, Thailand, Singapura, dan Indonesia sebagai tuan rumah.

Badan penelitian seluruh dunia berperan aktif untuk meningkatkan nilai tambah penanganan dan pengolahan pangan, menekan food losses, mengoptimalkan pengolahan limbah, dan pendekatan hilirisasi dalam konsep agroindustri 4,0.

Kepala Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian, Prof. Dr. Risfaheri, MS mengatakan kegiatan ini menjadi ajang bertukar pengalaman diantara para peserta terutama tantangan di sektor pertanian yang memerlukan perhatian seluruh negara di Dunia. Ia mengaku, permasalahan pasca panen di negara-negara ASEAN hampir sama dan di Indonesia lebih kompleks.

“Di forum ini kita berbagi informasi, hasil-hasil penelitian, teknologi yang kita hasilkan. Nanti juga ada pihak-pihak dari dunia swasta, pihak-pihak pelaku bisnis dan dengan adanya potensi pertanian yang ada nanti dia menyerap teknologi itu. Mengeksekusi adalah pelaku bisnis, kami tugasnya bagaimana menyiapkan teknologinya, dan inovasinya,” ucap Prof. Risfaheri kepada media di Bali Dynasti Resort, Kuta, Rabu (29/8/2018).

Menurut Prof. Risfaheri, kerugian di Indonesia dialami hampir seluruh komoditi, khususnya pangan dan hortikultura. Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian paling banyak menekan kerugian tanaman pangan, khususnya padi. Pemerintah, kata Risfaheri, mengintroduksi berbagai teknologi, seperti alat pengering. Pasalnya, sistem penjemuran yang baik bisa meningkatkan hasil panen padi secara nasional.

“Angka kerugian komoditi hortikultura di Indonesia merupakan yang tertinggi. Kerugian pasca panen untuk tanaman padi saat ini rata-rata bisa ditekan hingga tiga persen,” ungkapnya.

Prof Risfaheri menilai meski hasil panen besar, namun jika petani tak mampu memperpanjang daya simpan hasil hortikulturanya, maka gejolak harga akan tetap terjadi saat di luar musim. Selain daya simpan, mekanisme pengangkutan hasil pertanian di lapangan juga menjadi sorotan. “Indonesia sudah memiliki teknologinya, namun masih belum tersosialisasi dengan baik,” terangnya.

Lebih jauh, Prof Risfaheri memaparkan poin penting yang disampaikan adalah beberapa antisipasi menghadapi peningkatan jumlah penduduk dunia yang diprediksi mencapai 9,15 miliar jiwa pada 2050. Pertumbuhan penduduk tinggi ini pastinya diikuti peningkatan kebutuhan pangan sebesar 60 persen.

Sementara, panitia penyelenggara yang juga Peneliti Utama Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Prof. Dr. Sri Widowati, MS pada kesempatan yang sama berharap pemaparan abstrak yang terbagi dalam sesi presentasi 49 oral dan 54 poster dapat menambah kekayaan ilmu penelitian dibidang pertanian. Selain itu, hasil penelitian dari Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian dapat diminati sekaligus diadopsi industri pangan, baik didalam maupun luar negeri.

Hal baru dari hasil penelitian Indonesia yang disampaikan dalam 2nd ICAPHP diantaranya soal upaya mengurangi kerugian hasil pertanian serta holtikultura seperti padi, jagung, bawang merah, dan cabai. Hasil penelitian lain yang juga dipresentasikan adalah strategi memperpanjang umur simpan melalui pemanfaatan teknologi.

Ia mengakui, hasil pertanian dan holtikultura selama seminggu biasanya sudah busuk, tetapi dengan teknologi yang yang dimiliki yakni CAS, Control Atmosphere Storage itu bisa sampai 2 bulan atau lebih.

“Bawang merah kita mempunyai instore drying, itu menyimpan sekaligus mengeringkan. Jadi kalau misalnya pascapanen hujan kan susah. Jadi itu bisa disimpan dalam dalam namanya instore dryer, dikeringkan sekaligus disimpan. Kalau petani biasa kan dijemur saja, nah kalau hujan, kan tidak bisa,” tegasnya mengakhiri.(red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan