RegionalTeras Berita

Togar Situmorang, Makna Hari Raya Waisak Tak Akan Pudar Karena Pandemi Covid-19

(Foto/ist)

 

DENPASAR – Perayaan Hari Raya Waisak 2564, tahun ini bagi umat Budha di Indonesia terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, wabah pandemi virus corona (covid-19) yang melanda hampir di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia mengharuskan setiap orang lebih banyak berdiam diri di dalam rumah, dan menghindari kerumunan massa. Biasanya, Candi Borobudur di Jawa Tengah menjadi pusat diperingatinya hari raya Waisak bagi umat Budha.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo telah menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus corona. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dalam rangka percepatan covid-19 ini.

Advokat Togar Situmorang, S.H., M.H., MAP., mengatakan ditengah pandemi covid-19 pemerintah menganjurkan segala aktivitas dan kegiatan dikurangi apalagi yang berada di tempat terbuka dan melibatkan orang banyak. Termasuk kegiatan keagamaan yang juga dibatasi aktivitasnya.

Meski demikian, kata advokat yang telah lama menetap Bali ini, perayaan keagamaan tidak akan berkurang maknanya kendati untuk sementara waktu pemerintah meminta masyarakat berdiam di rumah untuk menghindari paparan virus corona.

“Melihat pandemi ini masyarakat harus bersama-sama memutus penyebaran virus corona. Salah satu caranya adalah menjaga jarak aman dan menghindari tempat keramaian,” ucap Togar Situmorang, pengacara yang juga Ketua Hukum RS dr. Moedjito Dwidjosiswojo Jombang, Jawa Timur.

Seperti diketahui, Waisak merupakan hari raya penting bagi pemeluk agama Buddha. Waisak biasanya dirayakan pada bulan Mei atau awal Juni, ketika bulan purnama bersinar. Tahun ini, Waisak jatuh pada Kamis, 7 Mei 2020. Hari Raya Waisak merupakan hari peringatan kelahiran Pangeran Siddhartha, penerangan sempurna menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama.

Selain umat Budha yang merayakan Waisak, pada hari yang sama ini umat Hindu juga tengah merayakan hari Purnama Sasih Desta. Sama halnya dengan perayaan hari keagamaan, umat Hindu pun di bulan Purnama melaksanakan persembahyangan ke Pura, mrajan, maupun sanggah bersama keluarga. Namun karena ditengah pandemi covid-19, mewajibkan semua aktivitas harus dibatasi dan dilakukan di rumah.

“Mari kita maknai perayaan suci ini dengan hikmat. Setiap umat harus saling mencintai. Antar sesama saling mencintai, tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi mementingkan diri. Kasih menjadi hukum baru menggantikan hukum lama. Semua hukum lama, seluruh kejahatan, setiap tindakan negatif akan dihilangkan,” kata advokat yang juga Ketua Pengurus Kota Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (Pengkot POSSI) Kota Denpasar.

Togar Situmorang mengungkapkan, ajaran universal tentang cinta kasih, welas asih, empati bagi sesama dapat menjadi obat dalam segala situasi apalagi dittengah pandemi covid-19.

“Doa kami agar Waisak membawa kebaikan bagi segenap rakyat dan memperkuat rasa persaudaraan kita sesama anak bangsa dalam menghadapi dan melewati masa-masa sulit ini, dan semoga bencana wabah lenyap adanya. Dan kami dari Law Firm Togar Situmorang mengucapkan Selamat Hari Raya Waisaka Puja,” tutup advokat yang baru saja membuka kantor cabang kedua Law Firm Togar Situmorang di Gedung Piccadilly Jl. Kemang Selatan Raya No.99, Room 1003-1004, Jakarta Selatan. Kantor pusat Law Firm Togar Situmorang berlokasi di Jl. Tukad Citarum No. 5 A Renon, dan kantor cabang Denpasar di Jl. Gatot Subroto Timur No.22 Kesiman Denpasar. (tim)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan