RegionalTeras Berita

Wilayah Bali Terasa Panas, Ini Penjelasan BMKG

(foto : ist) Ilustrasi.

DENPASAR – Suhu udara di wilayah Bali dalam beberapa hari terakhir khususnya siang hari terasa cukup panas. Stasiun pengamatan BMKG mencatat suhu udara maksimum mencapai 37 C sejak tanggal 19 Oktober lalu.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, drs. R. Mulyono R. Prabowo M.Sc menjelaskan, berdasarkan persebaran suhu panas dominan berada di selatan Khatulistiwa, hal ini erat kaitannya dengan gerak semua matahari.

“Pada bulan September matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga bulan Desember. Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan seperti di Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagainya,” ucapnya.

Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari.

Selain itu pantauan dalam dua hari terakhir, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari.

“Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara,” jelasnya.

Gerak semu matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Ditambahkan, dalam waktu sekitar satu minggu kedepan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan.

“Kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya,” paparnya.

BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas agar banyak meminum air putih untuk menghindari dehidrasi.

“Kenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta waspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla,” ucap Mulyono. (awd)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan