RegionalTeras Berita

Dwi Yustiawati Dukung Upaya Bupati Berdayakan Latih Skill Hingga Fasilitasi Modal Usaha Pencari Batu Sikat

Foto - Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati, S.E. (Ist)

KLUNGKUNG – Pemkab Klungkung diminta agar lebih serius mencari solusi dan memberdayakan para mantan pencari batu sikat disekitar pantai Watu Klotok agar mereka tetap bisa hidup layak dan tidak kehilangan mata pencaharian. Hal itu diungkapkan tokoh masyarakat Klungkung yang juga caleg DPRD Bali dapil Klungkung nomor urut 3 dari PDI Perjuangan Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati, S.E.

“Penghentian pencarian baru sikat di sekitar pantai Watu Klotok dan kawasan lainnya di Klungkung ini kami dukung untuk menyelamatkan lingkungan. Tapi nasib warga juga harus tetap diperhatikan,” kata Dwi Yustiawati kepada wartawan saat ditemui di sela-sela simakrama bersama warga di Klungkung, Sabtu (13/2/2019).

Ia menegaskan penghentian pencarian batu sikat ini memang sangat penting dan wajib dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan lingkungan yang semakin parah di kawasan pantai di Klungkung.

“Warga sudah mau menghentikan pencarian batu sikat sesuai imbauan Bupati. Ini bagus, artinya mereka sudah sadar untuk tidak ikut merusak lingkungan. Kesadaran mereka harus diapresiasi dengan mencari solusi dan pengganti atas mata pencarian mereka yang hilang,” kata tokoh muda cerdas dan dikenal berjiwa sosial tinggi itu.

Untuk itu tokoh perempuan perempuan kelahiran 11 Desember 1992 ini berharap Pemkab Klungkung segera menyiapkan sejumlah skema progam pemberdayaan bagi ratusan pencari batu sikat. Misalnya dengan melatih mereka untuk berwirausaha di sektor UMKM atau ekonomi kreatif. Misalnya di bidang kuliner.

Hal ini juga harus dikuatkan dengan bantuan modal usaha yang juga dananya bisa disinergikan dengan CSR (Corporate Social Responsibility) perusahan yang ada di Klungkung bahkan Bali secara umum.

Ia juga sepakat solusi lainnya bagi para eks pencari batu sikat ini diberdayakan untuk membentuk kelompok peternak/memelihara sapi atau babi atau juga kelompok usaha bersama (Kube). Pemerintah juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan warga dalam menjalankan solusi yang ditawarkan.

“Intinya harus ada solusi bagi warga untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata tokoh perempuan yang bersama suaminya Ketut Leo dikenal sebagai sosok yang dermawan dan sejak lama membantu pembangunan banyak pura khususnya di kawasan Nusa Penida.

Pasca penghentian pencarian baru sikat ini, Dwi Yustiawati juga berharap segera ada langkah riil dari instansi terkait di Pemkab Klungkung untuk melakukan penataan kawasan pantai di Watu Klotok Klungkung dimana juga di kawasan ini ada Pura Watu Klotok sebagai kawasan suci.

Diharapkan di kawasan juga dibangun fasilitas penunjang untuk para pemedek atau umat Hindu yang sembahyang ke pura. “Perlu juga dikaji dan dipikirkan apakah kawasan ini bisa dikembangkan lebih jauh sebagai wisata spiritual tapi juga merusak kesucian dan kelestarian lingkungan,” tegas caleg perempuan yang juga aktif di Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bali itu.

Seperti diberitakan sebelumnya penghentian pencarian batu sikat ini ditegaskan Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta saat menggelar tatap muka dengan pencari batu sikat di Wantilan Pura Watu Klotok, Rabu (13/2/2019).

Pencarian batu sikat dalam skala besar atau menggunakan kampil (karung plastik) dihentikan. Pencarian hanya dapat dilakukan dengan memilih langsung batu-batu kecil jenis tertentu. Tetapi hal ini tidak berlaku lama. Bupati membatasi pengambilan secara keseluruhan hingga akhir tahun 2019 ini.

“Pengambilan dalam skala besar kami hentikan. Pencarian batu sikat sangat berdampak terhadap abrasi,” ujar Suwirta di hadapan puluhan pencari batu sikat.

Bupati Suwirta selanjutnya menawarkan solusi kepada para pencari batu sikat ini untuk membentuk kelompok peternak/memelihara sapi atau babi. Jika sudah terbentuk, ditahun 2020 Pemkab akan menggelontor bantuan tersebut.

Selain itu, beberapa dari mereka yang memenuhi syarat akan diangkat menjadi tenaga kontrak yang akan ditempatkan sebagai petugas kebersihan, tukang kebun, petugas pembibitan dan petugas balawista. Sementara terhadap salah seorang pencari batu sikat yang tergolong lansia dan hidup sebatang kara akan diupayakan bantuan rutin dari pemerintah.

“Untuk tenaga kontrak pada Oktober ini kita membuat TOSS terintegrasi yang memerlukan tenaga sekitar 150 orang, mungkin disini bisa kita ambil 50 orang,” papar Suwirta seraya menugaskan dinas terkait untuk membuat perencanaan total, agar kawasan pantai Watu Klotok terlihat lebih tertata dan rapi.

Sementara itu sejumlah warga pencari batu sikat menyatakan siap mematuhi himbauan Bupati. Seperti Ketut Sondra, pengepul batu sikat asal Desa Tojan ini mengaku akan segera memindahkan sisa batu sikat miliknya dari lokasi sekarang di sekitar pantai Watu Klotok.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung, A.A Ngurah Kirana menyebutkan dari data yang ada tercatat sebanyak 160 orang menjadi pencari batu sikat.

Mereka berasal dari Desa Negari sebanyak 16 orang, Desa Takmung 56 orang, Desa Satra 6 orang, Desa Tojan 53 orang, Desa Gelgel 14 orang, Desa Tangkas 5 orang dan Desa Jumpai 10 orang. (Red)

 

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan