RegionalTeras Berita

I Ketut Wartha: Transparansi Wujud Pemerintahan Bersih dan Berwibawa

GIANYAR – Transparansi yang kini terus digaungkan dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa dinilai perlu diterapkan di berbagai lini termasuk tingkat desa.

“Saya menilai transparansi itu penting dalam setiap kegiatan, apalagi yang menyangkut pembangunan di masyarakat. Seluruh warga harus tahu apa yang terjadi di wilayahnya termasuk soal anggaran,” ujar I Ketut Wartha, warga Desa Suwat Gianyar yang kini maju sebagai calon perbekel saat ditemui Rabu (22/8) malam.

Menurut pensiunan anggota Polres Gianyar yang kini maju dalam Pilkades Suwat pada 2 September 2018 nanti, keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh peran dan partisipasi masyarakat. Untuk itu maka segala kegiatan yang terkait dengan pembangunan mesti secara terbuka diketahui masyarakat, mulai ide, perencanaan hingga pelaksanaannya.

Untuk itu Wartha menegaskan siapa pun yang nantinya dipilih dan dipercaya warga Suwat untuk memimpin desa dengan empat banjar ini (Banjar Suwat Kaja, Banjar Suwat Kelod, Banjar Triwangsa dan Banjar Petak Jeruk) harus bisa melibatkan seluruh warga dalam pembangunan.

“Yang penting semangat gotong royong, kerja sama dan keterbukaan bisa terus digelorakan,” jelasnya seraya mengatakan dia maju sebagai calon perbekel karena ingin memenuhi harapan masyarakat yang menginginkan ada perubahan di Desa Suwat.

Atas kepercayaan tersebut, Wartha bertekad ngayah, mengabdikan diri untuk membangun desa. Bagi dia, rakyat adalah tuan yang harus dilayani sebaik-baiknya.

“Bukan dijauhi hanya karena mereka berani kritis atau punya pandangan yang berbeda,” jelasnya. Wartha juga akan meningkatkan komunikasi dan sinergitas desa dinas dan desa adat. Sulit roda pemerintahan bisa berjalan baik dan lancar tanpa komunikasi yang baik antara dinas dan adat.

Wartha melihat Desa Suwat memiliki berbagai potensi yang bisa dikembangkan seperti desa wisata, kreativitas anak muda, mendorong warga aktif sebagai pelaku usaha, dan masih banyak hal lainnya yang bisa dioptimalkan, namun untuk mencapai itu semua diperlukan database yang terintegrasi. Meski demikian hal-hal tersebut hanya dapat direalisasikan pemimpin yang memiliki karakter berbaur, inovatif, mendengar masukan atau kritik, sabar, terjun langsung ke masyarakat, dan mengakar.

Lantas ia mengingatkan pembangunan tidak hanya sekadar fisik tapi juga karakter mental atau sumber daya manusia. Ini bukan janji atau teori, tapi niat saya yang tulus untuk memberi perubahan.

“Sebagai pemimpin juga harus siap diawasi dan menerima masukan dari masyarakat dan patuh dengan aturan,” tegasnya.(red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan