Rona

Tak Sulit Kuliah ke Luar Negeri, Banyak Beasiswa Menanti

Foto: Peserta Sharing Session: Kupas Beasiswa Kuliah Keluar Negeri dan Pengalaman Belajar di Negara Empat Musim”.

 

 

DENPASAR – Makin banyak generasi muda Bali yang melanjutkan studi ke luar negeri, terlebih kini banyak beasiswa tersedia. Hal ini mengemuka dalam seminar bertajuk “Sharing Session: Kupas Beasiswa Kuliah Keluar Negeri dan Pengalaman Belajar di Negara Empat Musim”, bertempat di Financial Evolution (Fin.E), Renon Denpasar, Minggu (8/3/2020).

I Dewa Ayu Dwika Puspita, penggagas seminar ini adalah salah satu peraih beasiswa LPDP untuk jenjang S2 di University of Edinburgh, Inggris yang baru saja menamatkan studi. Menurutnya, kuliah di luar negeri memberi nilai plus, salah satunya kemampuan bahasa karena perkuliahan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini juga menjadi syarat bagi siswa dan mahasiswa jika ingin berkuliah ke luar negeri.

“Kemampuan bahasa Inggris terutama berbicara dan mendengar perlu ditingkatkan karena terbiasa membaca buku bahasa Inggris saja tak cukup. Itu yang saya lihat masih kurang dari pelajar di Indonesia. Jadi bahasa Inggris perlu lebih dimantapkan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, nilai plus kuliah di luar negeri memberi akses lebih luas jika kita ingin bekerja di perusahaan internasional. Kini, kuliah di luar negeri lebih mudah karena banyak universitas yang memberikan beasiswa jenjang sarjana, master bahkan doktor secara penuh, termasuk dari lembaga-lembaga pemerintah.

“Untuk itulah kegiatan ini kami gelar, agar para siswa dan mahasiswa di Bali mendapat informasi dan pengetahuan belajar di luar negeri dari mereka yang telah menyelesaikan studi atau yang sedang dan akan melanjutkan studi dengan program beasiswa,” kata peraih gelar master di bidang kesehatan mental ini.

M. Zaenal Arifin, salah satu pembicara dalam seminar ini mengungkapkan rasa gembiranya saat dirinya mendapat dua beasiswa sekaligus yakni DAAD dan LPDP. Ia mesti memilih salah satu, pilihannya jatuh pada program studi Master of Governance and Public Policy di University of Passau, Jerman.

Arif, panggilan akrab pendiri Sanglah Institute adalah alumnus Sosiologi FISIP Universitas Udayana dan beberapa kali mengalami kegagalan saat melamar beasiswa ke luar negeri. Tak pantang menyerah, adalah kiatnya agar berhasil memperoleh beasiswa.

“Kuncinya, kita mesti mampu meyakinkan pemberi beasiswa yang tertuang dalam CV dan surat lamaran. Alasan memilih program studi juga perlu disampaikan dengan jelas, termasuk jika ada rekomendasi dari dosen atau komunitas tempat siswa dan mahasiswa pernah bergiat. Juga, tulisan di jurnal atau buku yang pernah diterbitkan. Itu menjadi pertimbangan untuk meraih beasiswa,” jelas Arif yang juga seorang pendidik ini.

Dwika menambahkan, dukungan sosial menjadi penting saat berada di luar negeri. Pergaulan dengan kakak kelas sangat menunjang perkuliahan, minimal mahasiswa peraih beasiswa bisa paham kultur negara yang dituju, selain sistem pembelajaran di sana.

“Di luar negeri, sebelum masuk kelas mahasiswa telah menyiapkan diri dengan sangat baik dan aktif berdiskusi. Itu yang saya pelajari saat kuliah di Inggris. Kampus sangat terbuka dalam hal informasi dan para mahasiswa saling mendukung satu sama lain. Hal itu yang belum berkembang di kampus dalam negeri,” pungkas volunteer di Rumah Berdaya Denpasar ini. (Aya)

 

 

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan