RegionalTeras Berita

Tanaman Padi Peka Terhadap Perubahan Iklim

(foto : Ist) Subak sembung Denpasar yang selalu aktif berkordinasi dengan dinas pertanian kabupaten kota dan provinsi mengenai pola tanam dan program (AUTP)  asuransi usaha tani padi.

DENPASAR – Faktor iklim adalah salah satu kendala utama dalam berusaha tani. Musim kemarau yang berkepanjangan berdampak pada matinya tanaman karena kekurangan air, dilain pihak hujan yang berlebih pada saat musim hujan juga dapat berakibat kematian tanaman karena terendam air. Tanaman padi sawah adalah tanaman paling peka terhadap Dampak Perubahan Iklim (DPI).

Terkait dengan persoalan tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Ir IB Wisnuardhana, M.Si., di Denpasar, Selasa (10/9/2019) menyampaikan Periode April – September 2019 adalah periode musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Bali dan diprediksikan oleh Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Provinsi Bali musim kemarau di Bali akan terjadi sampai dengan bulan Oktober/Nopember 2019.

Berbagai upaya antisipasi oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DISTPH-BUN) Provinsi Bali telah dilakukan untuk meminimalisir kerusakan tanaman padi karena kekeringan, di antaranya:

1. Mengidentifikasi subak-subak yang berpotensi mengalami kekeringan dan pembinaan untuk upaya-upaya antisipasi.
2. Imbauan untuk menyesuaikan pola tanam, dengan menanam lebih banyak palawija yang relatif tahan kering.
3. Menyalurkan 13 unit bantuan pompa air.
4. Mengasuransikan padi melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) seluas 15.000 Ha.

Luas tanam padi yang berdampak kekeringan periode April – September 2019 di provinsi Bali tercatat seluas 277,3 Ha, dengan rincian : intensitas kerusakan ringan 150,45 Ha, sedang 49 Ha, berat 26,8 Ha dan puso/gagal panen 78 Ha.

Kerusakan tanaman dengan intensitas puso terjadi di 5 subak di Kabupaten Jembrana yaitu :

1. Subak Manistutu Timur, Desa Manistutu Kec. Melaya 10 ha, 2. Subak Manistutu Barat, Desa Manistutu, Kec. Melaya 15 ha, 3. Subak Sombang, Desa Tukadaya Kec. Melaya 6 ha, 4. Subak Pangkung Jaka, Desa Tukadaya Kec. Melaya 8 ha, dan 5. terluas di Subak Benel Desa Kaliakah, Kec. Negara seluas 35 ha.

Terhadap subak-subak yang berdampak kekeringan dengan intensitas berat dan puso akan diberikan kompensasi berupa bantuan benih padi untuk ditaman saat musim hujan bulan Okrober/Nopember 2019, telah disiapkan bantuan bibit padi sebanyak 250 ton, untuk luasan 10.000 Ha.

Bagi Kab/Kota yang berencana memberikan bantuan bibit padi untuk kompensasi kepada subak-subak yang mangalami kekeringan agar segera berkoordinasi dengan DISTPH-BUN Provinsi Bali. (red)

Teras Bali News

Tinggalkan Balasan